Bung Kapuak Jagoi Babang, Bengkayang Menurut Pendapat Saya

Bengkayang40 Views
Banner Mengenal Bengkayang

Menurut Pendapat saya, bahwa benar Bung Kapuak Jagoi Babang yang ada di Kabupaten Bengkayang ini merupakan perkampungan tua bagi masyarakat suku Dayak Bidayuh yang tidak mereka tinggalkan begitu saja diwaktu-waktu tertentu mereka melakukan rutual adat bersama di Bung Kapuak ini. Dalam ritualĀ  Gawia Sowa merupakan serangkaian permohonan kepada leluhur agar diberikan kelimpahan rejeki dan ungkapan rasa terima kasih atas hasil ladang yang berlimpah yang digarap oleh masyarakat Dayak Bidayuh yang ada di Jagoi Babang.

Seiring perkembangan masa masyarakat Dayak Bidayuh yang ada di Jagoi Babang ini sudah berpindah tinggal tidak lagi berada di Bung Kapuak dan sudah ada yang tinggal di daerah Jagoi Babang dan ada yang di Jagoi Take dan meninggalkan perkampungan lama untuk memulai hidup yang lebih mudah, dekat dengan jalan raya dan pasar juga mulai berbisnis dan melakukan pekerjaan yang lainnya.

Banner Wisata Pulau Temajo

Dalam Gawia Sowa ditiap tahunnya dilaksanakan pada tanggal 1-3 Juni, kegiatan ini turut melibatkan kedua negara yaitu Malaysia dan Indonesia yang mana masyarakat dari suku Dayak Bidayuh yang ada di Malaysia turut melaksanakan Gawia Sowa di Bung Kapuak ini. Jadi menurut saya, jika ingin berkunjung ke Gawia Sowa yang ramai datang lah pada tanggal 1-3 Juni kamu bisa menyaksikan beragam atraksi budaya, pentas seni dan karya-karya seniman di kawasan Bung Kapuak.

Sejarah Dibangunnya Bung Kapuak

Awal berdirinya perkampungan Bung Kapuak ini berawal kepindahan masyarakat Suku Dayak Bidayuh dan menemukan Jagoi Babang dan burung juga semut mengatakan bahwa tempat tersebut cocok sebagai perkampungan. Semantara itu usia kampung ini sudah 182 tahun yang berkembang sekarang sudah menjadi dua desa yaitu Desa Jagoi dan Desa Sekida.

Setelah perpindahan masyarakat dari suku Dayak Bidayuh ini tidak lagi di Bung Kapuak mereka sadar akan pentingnya budaya dan warisan leluhurnya sehingga dibangunlah mulai tahun 2013-2014 rumah adat yang berdiri megah ditengah bukit Bung Kapuak ini data tersebut bisa didapatkan informasinya di catatan foto dan sejarah berdirinya rumah adat yang ada di Bung Kapuak ini dilantai satu, bila dihitung bangunan ini sudah berdiri kurang lebih 12 tahun

Bung Kapuak Jagoi Babang Bengkayang
Kami bersama Yayasan Webe dan Sekdis Desa Jagoi Babang sedang berfoto di Rumah Adat di Bung Kapuak

Dalam sejarahnya juga bertahun-tahun mereka mendiami daerah tersebut mereka membuat rumah adat, membuat gawai yang dilaksanakan setiap tahunnya setelah mereka menyelesaikan panen padi diladang dan mengadakan pesta adat ini di Bung Kapuak.

Ciri Khas Rumah Adat Bung Kapuak

Sementara itu Bung Kapuak ini memiliki ciri yang sama dengan rumah adat yang ada di Sebujit namun tampak lebih besar dan tidak terlalu tinggi, berbentuk panggung memiliki tiang utama dibagian tengah sebagai penyangga struktur bangunan dari rumah adat ini. Sedangkan untuk masuk ke rumah adat ini melalui satu pintu dan tangga dengan memiliki tiga lantai yang tiap lantainya memiliki fungsi dalam tiap ritual, pada lantai pertama tampak lebih besar dan lantai kedua sudah mulai menyempit dan pada lantai ke tiga hanya bisa muat dua orang saja.

Sedangkan bentuk bangunan rumah ini berbentuk kerucut dan dan beratapkan kayu (sirap) dan disetiap lantainya ada terdapat jendela yang bisa digunakan agar sirkulasi udara tetap berjalan.

Setelah menghimpun dari berbagai sumber mengatakan bahwa pada rumah tersebut ada tempat kecil yang menyimpan setengah tengkorak yang menurut keyakinan masyarakat peninglakan tersebut berasal dari kepala tetua Dayak Bidayuh, tempat tersebut dipercayai sebagai tempat keramat oleh mereka masyarakat suku Dayak Bidayuh sampai dengan saat ini.

Perayaan Gawia Sowa

Di setiap tanggal 1-3 juni dilaksanakan Gawai Sowa pada hari pertama, para tetua akan memberikan sesajen di rumah kecil yang terdapat di bung Kapuak, yang merupakan tempat sakral tadi yang diatas sudah kita bahas dengan memberikan sesajen di tempat peninggalan leluhur seperti kepala tengkorak manusia, tanduk rusa, batu katak dan lain-lain.

Dalam berlangsungnya proses ritual di rumah kecil agar tidak melakukan aktivitas pertunjukan ilmu tinggi agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, sementara itu saja mereka yang melaksanakan ritual di rumah kecil tersebut cenderung tidak memiliki ilmu yang kuat, selain ilmu dari buku dan ilmu pengetahuan.

Dibeberapa tahun terakhir masyarakat Jagoi Babang kerap kali melaksanakan ritual adat Gawia Sowa dan beberapa kali mengundang saudara-saudara serumpun mereka yang ada di Malaysia dan tiap lima tahun berubah tempat untuk melaksanakan kegiatan tersebut yang menghadirkan keluarga serumpun dari berbagai wilayah yang ada di Malaysia seperti dari daerah Sarawak, Kuching, Berunai Darusalam.

Penulis : Charis Dominggus

Banner Mengenal Bengkayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *